Bangun Ekosistem Digital, Pemerintah Terlantas Produk UMKM Kuasai Pasar Domestik

bangun-ekosistem-digital-pemerintah-dorong-produk-umkm-kuasai-pasar-domestik-1

Direktur Bisnis dan Pemasaran SMESCO Indonesia, Wientor Rah Mada, menyebut bahwa Presiden Jokowi menargetkan ada 30 juta UMKM pada tahun 2024 secara onboarding . Artinya, tidak cuma masuk dalam market place , namun sudah berjualan melalui medsos dan mudah untuk mendalam e-commerce bagi pelaku UMKM di lintas daerah.

Menurutnya, sesuai moral dari Presiden Jokowi untuk mendorong UMKM masuk ke ekosistem digital, fokus Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah adalah sesegera jadi membuat UMKM naik kelas dengan indikator yang tadinya informal menjadi formal.

Baca Serupa: Riset Tunjukkan Permenperin 3/2021 Sebabkan Kebangkrutan 40 Persen UMKM dan IKM Jawa Timur

“Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Membuang juga sangat responsif secara menahan laju produk memasukkan dan menggenjot inovasi dan kreativitas produk UKM & go digital dengan cara masuk ke pasar mencuaikan e-commerce , ” ujar Rah Mada dalam webinar dengan inti Kreativitas Brand Lokal Rasa Global , Rabu (7/7/2021).

Webinar tersebut merupakan kerja sama Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) dengan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

Rah Mada menambahkan, SMESCO sebagai pucuk tombak pelaksana layanan pemasaran bagi Koperasi dan UKM telah menjalankan pemasaran produk UMKM secara digital sejak 2008. Namun, mengingat sekarang semua sektor telah menyelap pada proses digitalisasi, harus disikapi secara bersama sebab semua stakeholder terkait secara tantangan dalam membangun ekosistem digital UMKM.

Menurut Rah Mada, SMESCO akan me- launching Siren. id (Smesco Indonesia Retail Network) guna memperluas jaringan channel pemasaran produk UKM di pasar domestik. Selain itu, juga membangun pergudangan hingga nano warehousing yang akan membantu biaya ekspedisi menjelma lebih murah.

“UMKM silakan kirim bahan ke kami dan hendak di- pack , dan kami kirimkan ke seluruh Pulau Jawa dan akan kami buat tarifnya flat, ” ujarnya.

Rahmada mengakui kalau ada beberapa hambatan di dalam perkembangan UMKM, yaitu soal akses pembiayaan. Padahal, negeri telah menyiapkan KUR. Bakal tetapi, akses ke sana memang sulit. Oleh karena itu, bagaimana membuat UMKM jadi bankable sehingga mampu besarkan bisnis dari informal ke formal. Tantangan kedua, adalah masuk ke ikatan pasok industri besar.

“Kami andaikan UMKM seperti sekoci yang mungil dan banyak dan butuh kapal tongkang agar mampu maju, ” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Savi Ferdy D. Savio mengatakan, walaupun kapasitas jalan dalam skala kecil seperti UKM, harus memiliki jadwal dan target yang terang. Harus disadari pula zaman ini merupakan era digital yang bisa mempercepat serta mempermudah transaksi penjualan serta pembelian.

Dia menekankan, hal lain dengan diperhatikan adalah siapa & alasan konsumen membeli. Biasa orang hanya berpikir bagaimana usaha produknys laku, dengan jalan apa uang bisa banyak, tetapi lupa berkembangnya usaha bergantung pada pelanggan. Maka dari itu, Ferdy mendorong karakter UMKM memiliki database pelanggan untuk mengenal pelanggan dalil mereka membeli.

“Sedikit yang bisa cakap siapa yang beli & siapa yang jadi konsumen mereka bahkan tidak mengetahui pelanggan tetap mereka, ” ujar dia.

Webinar tersebut juga membawa pelaku UKM, Cucu Haris, yang berbagi pengalaman menghantam usahanya dalam membangun cara dari skala kecil maka berkembang seperti saat tersebut. Dia bercerita memulai jalan dari tenda hingga mampu pindah ke ruko & kedai.

“Kalau bangun usaha pasti mengambil tantangan dan terus perbaiki (produk). Kadang saat sudah jadi, kita bingung dengan jalan apa menjualnya, ” ujarnya.

Dia juga menyilakan sesama pelaku UMKM buat melek digital. Hal itu amat membantu memasarkan produk susu murni yang dijualnya. “Tidak lupa kami celik hubungan baik dengan konsumen, minta nomor kontaknya. Kemudian komunikasi langsung dengan konsumen, kita tawarkan dan untuk info kepada mereka, ” kata Cucu.

Dalam kesempatan terpisah, Koordinator PMO Komunikasi Publik KPCPEN Arya Sinulingga mengatakan, Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah melalui program Jalan Mikro Kecil dan Membuang (UMKM) memiliki dan sudah menjalankan sejumlah program buat membantu UMKM mengatasi hasil pandemi. Sampai sejauh tersebut, langkah yang diambil negeri sudah mulai menunjukkan hasil positif untuk UMKM.

Menurut Arya, jalan ini akan terus ditingkatkan dengan mendorong UMKM buat mengoptimalkan pemanfaatan digital, terutama dalam hal pemasaran keluaran.

“Dalam hal ini, pemerintah bekerja sama dengan sebesar pihak mengupayakan dukungan buat kebutuhan permodalan kepada UMKM yang dipastikan tidak akan memberatkan UMKM, ” ujar Arya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, kanal bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas