Kemenperin Akui Industri Semen dan Pelumas Tertampar Covid-19,

WE Online, Jakarta

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan bahwa pandemi Covid-19 mendatangkan dampak pada industri semen yang membuat permintaan pasarberkurang sehingga utilisasi di industri semen pada semester I tahun 2020 sekitar 56 persen.

“Daya saing industri pun dengan umum terkena dampak kondisi pandemi Covid-19 yang membuat aktivitas ekonomi menjadi tidak seperti biasanya, ” kata Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Muhammad Khayam di Jakarta, Senin (21/9/2020).

Baca Juga: Harap Mati! Gonjang-Ganjing Pasar Saham Karena Fatwa Anies Cuma Sementara Aja Kenapa

Pada tahun 2019, kapasitas penerapan semen nasional mencapai 110 juta ton per tahun dengan konsumsi dalam negeri sebesar 70 juta ton per tahun. Untuk itu, Kemenperin terus mendorong peningkatan serapan pasar domestik. Apalagi, semen adalah salah satu komoditas yang penting bagi Indonesia.

“Sebagai negara yang terus membangun, ketersediaan semen sebagai pelajaran dasar pembangunan untuk perumahan, tiang, konstruksi dan sarana lainnya adalah hal yang sangat penting. Selain itu, menjadi salah satu pokok kelancaran roda pembangunan nasional khususnya pembangunan sarana fisik yang betul dibutuhkan guna terciptanya sarana dan prasarana peningkatan ekonomi nasional, ” paparnya.

Khayam menyatakan, pihaknya tengah memburu-buru agar industri semen di tanah air dapat memanfaatkan teknologi pabrik 4. 0 sebagai upaya penambahan daya saing. “Manfaat penerapan pabrik 4. 0 antara lain memaksimalkan proses produksi. Optimalisasi produksi ialah keuntungan bagi perusahaan karena mampu mengarah pada efisiensi sumber daya dan waktu produksi, ” jelasnya.

Manfaat lainnya adalah menciptakan pasar bentuk yang berorientasi pada pelanggan, meningkatkan visibilitas status ketersediaan barang serta proses pengiriman, memberi informasi  real time   di arus barang, transparansi berbagai keterangan produk seperti kualitas dan pokok barang, serta menurunkan biaya untuk menangani rantai pasokan yang pelik. “Penerapan industri 4. 0 dapat dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kebutuhan serta kesiapan pabrik, ” tandasnya.

Baca Juga: Semen Instan Jadi Primadona, Mortindo Luncurkan Produk Baru

Di samping tersebut, seiring perkembangan teknologi, pelaku daya juga dituntut untuk dapat menerapkan konsep industri hijau. Artinya, pabrik perlu menyelaraskan dengan kelestarian dunia hidup serta mengutamakan efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya zona.

“Dalam tahun-tahun mendatang, dalam rangka meningkatkan daya saing di pasar ijmal, modernisasi yang cepat dan jalan produksi yang efektif, efisien serta ramah lingkungan akan menjadi titik kunci untuk pengembangan industri nasional, ” terangnya.

Terkait hal tersebut, Kemenperin memberikan apresiasi kepada PT Penyelesaian Bangun Indonesia Tbk yang sudah memiliki komitmennya terhadap pemanfaatan teknologi modern dan penerapan industri hijau. Ini dibuktikan pada tahun 2019, perusahaan telah mendapatkan Sertifikat Industri Hijau dari Kemenperin.

“Dari hasil kunjungan, kami melihat produksi semen PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) Plant Cilacap, Jawa Tengah seluruhnya adalah  Portland Composite Cement   (PCC), yang merupakan macam semen yang lebih ramah lingkungan karena lebih sedikit menggunakan klinker yang dalam proses pembuatannya lulus banyak mengemisikan gas CO2, ” ungkap Khayam.

Plant Cilacap merupakan utama dari lima pabrik yang dimiliki PT SBI dengan kapasitas produksi sebesar 2, 6 juta ton semen. Pada Januari 2019, menggunakan anak perusahaan BUMN PT Emas biru Indonesia (Persero) Tbk, yakni PT Semen Indonesia Industri Bangunan (SIIB), resmi mengakuisisi saham mayoritas PT Holcim Indonesia Tbk dan menyilih nama perusahaan menjadi PT SBI dengan merek dagang Dynamix.

“Pada era pandemi, peluang ekspor semen serta klinker masih terbuka. Hal ini dibuktikan dengan adanya ekspor ke beberapa negara seperti Australia, Bangladesh dan China. Pada kuartal I tahun 2020, volume penjualan ekspor semen dan klinker PT SBI meningkat 180, 9 persen, ” sebut Khayam.