Mengikuti Tanggapan Pakar Psikologi Perkara Pelaksanaan TWK KPK

mendengar-tanggapan-pakar-psikologi-soal-pelaksanaan-twk-kpk-1

Pakar Psikologi Politik daripada Universitas Indonesia, Profesor Hamdi Muluk mengatakan, tes wawasan kebangsan (TWK) yang dilaksanalan pegawai Komisi Pemberantasan Manipulasi (KPK), sebenarnya bisa dipertanggung jawabkan. TWK memang bisa dijadikan tolak ukur karakter seseorang mulai dari paham radikalisme, intoleransi, ideologi liberalisme hingga sosialisme.  

Kendati, dia menguatkan, kalau di tangan karakter yang tidak tahu jalan menginterpretasikannya, dengan cara laksana ugal-ugalan dia jadi tools yang salah. Hal itu dia ungkapkan sekaligus menjawab polemik TWK di KPK.

Membaca Juga: Dibocorin Penyidik KPK Masiku Masih di Sini, Terus Kenapa Nggak Diringkus Juga Ya?

“Alat ukur ini secara keilmuan nggak ada masalah. Kami nggak tahu, nggak mampu jawab sekarang apakah dalam tangan BKN itu disahagunakan nggak tahu saya, ” kata Hamdi Muluk pada Jakarta.

Besar Lab Psikologi Universitas Mendirikan Nusantara Kampus Bekasi Dr Istiani mengatakan, TWK KPK sudah sesuai kaidah psikometri serta memiliki tingkat dasar yang baik. Namun, masa publik merasa janggal akan hasil TWK tersebut, oleh karena itu BKN perlu membuktikan dengan ilmiah termasuk detail metode penyelenggaraan tes tersebut.

“Penyusunan instrumen TWK sudah melalui prosedur ilmu jiwa yang ketat dan panjang sejak 2012, sehingga TWK sudah sesuai dengan peraturan psikometri dan memiliki tingkat validitas yang baik, ” katanya.

Kaya diketahui, TWK diikuti satu. 351 pegawai KPK lulus menyingkirkan 75 pegawai berintegritas semisal penyidik senior, Roman Baswedan, Ketua Wadah Personel KPK yang juga pemeriksa Yudi Purnomo, Direktur Sosialisasi dan Kampanye Anti-Korupsi KPK Giri Suprapdiono dan Kasatgas KPK Harun Al-Rasyid. Mereka dinyatakan TMS berdasarkan ulangan tersebut.

Hasil koordinasi KPK, BKN, Kemenpan RB, Kemenkumham, Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) dan Lembaga Tata laksana Negara (LAN) menyatakan kalau 51 dari 75 pegawai itu dinyatakan tidak lucut semenetara 24 sisanya dapat dibina lebih lanjut pra diangkat menjadi ASN.

Faktanya, Nusantara berada di urutan ke-2 terbawah dari 61 negara di dunia dalam peristiwa minat baca. Mau sampai kapan? Mulai aja zaman dari #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Tulisan di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi secara Republika. Hal yang terpaut dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan daya artikel menjadi tanggung jawab Republika.