Oleh karena itu Laga Pamungkas, Prabowo Subianto Bakalan Ngotot di Pilpres 2024

Gelagat Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto kembali maju di Pilpres 2024 semakin kuat. Masa itu, usia Menteri Pertahanan itu 73 tahun, serta bisa jadi ini merupakan kontestasi terakhirnya.

“Kalau maju, ini last fight Prabowo, ” perkataan politisi senior Partai Gerindra, Arief Poyuono kepada Rakyat Merdeka , kemarin.

Baca Juga: Tokoh Gerindra yang Paling Disukai Ternyata Bukan Prabowo Subianto

Wakil Ketua Umum Golongan Gerindra masa bakti 2015-2019 ini menilai, kemungkinan Prabowo maju cukup besar. Indikasi utamanya adalah, sinyal berpengaruh dari PDIP untuk berkoalisi dengan Partai Gerindra.

Namun, aktivis pekerja ini kurang setuju, kalau Prabowo diduetkan dengan Pemimpin Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. “Nggak mungkin. Sebab, Pokok Mega sendiri tidak memiliki ambisi ke arah sana. Jadi, saya rasa Prabowo-Puan paling tepat, ” sebutnya.

Nah, jika komposisi Prabowo sebagai bahan presiden, dan Ketua DPP PDIP, Puan Maharani jadi calon wakil presidennya, Arief menilai, komposisi ini merupakan yang paling rasional. Pokok, sulit bagi Prabowo buat legowo jika tetap maju sebagai cawapres.

Sekalipun komposisi tersebut dibilang oke, namun, lanjutnya, denah politik tidak memberikan gadaian kemenangan untuk Prabowo. Hitungannya, meskipun Prabowo saat itu berada di posisi teratas beragam survei bursa capres, tapi angkanya belum mendekati 40-50 persen.

Apalagi, kata Arief, pasar uang Pilpres 2024 pilihannya beragam. Ada Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Prabowo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, hingga Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Lebih di lagi, dia mengkritisi strategi Prabowo jika benar mau maju di Pilpres 2024. Sepengetahuannya, Prabowo belum merangkul segmen pemilih di asing basis pemilih loyalnya. Baginya, tidak bisa jika Prabowo hanya mengandalkan basis pemilih loyalnya saja.

Selain itu, Pilpres 2024 mendatang adalah pertarungan tanpa petahana, serta lebih dari separuh calon pemilihnya adalah kaum bujang.

Faktanya, Kemenkominfo mencatat ada sekitar 1. 387 hoaks dengan beredar di tengah pandemi Covid-19 selama periode Maret 2020 hingga Januari 2021. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Menentang Sumber Artikel di Kaum Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja serupa Warta Ekonomi dengan Kaum Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan daya artikel menjadi tanggung tanggungan Rakyat Merdeka.